Setiap kali berbicara tentang ibu, bulir bening selalu keluar dari sudut mata. Entah kenapa, hati selalu bergetar jika nama ibu dikumandangkan. Teramat besar jasa beliau membesarkanku, rela memberikan kasih sayangnya tanpa mengharapkan balasan.

Dulu, saat aku masih belum menikah, tak ada rasa apa-apa saat nama ibu disebut. Tapi setelah seorang anak terlahir dari rahimku, aku pun tahu rasanya. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu jika anak-anak membangkang. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu saat mengantarkan anak-anaknya ke tempat tidur dan menemaninya hingga terlelap. Aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan ibu saat anak-anak sakit sehingga aku harus terjaga semalam.

Baca Juga: Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner

Ibu tak pernah mengeluhkan berbagai kenakalanku saat kecil, tapi beliau selalu membicarakan betapa aku pandai membaca sejak berumur tiga tahun. Sebelum masuk ke taman kanak-kanak aku sudah pandai merangkai huruf dan itu membuat ibu bangga, beliau pun menceritakannya kepada setiap orang yang ditemui.
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku
Ibu (yang sedang berdiri), saya, dan kedua cucu ibu di tempat rekreasi
Ibu dengan bangga membiarkanku membaca setiap spanduk yang berjajar di pinggir jalan, seolah olah ingin berkata kepada dunia “inilah putriku yang sudah pandai membaca sebelum ia sekolah”. Aku pun senang bisa membuat ibu tersenyum bangga.

Ibu, Pendidik Tersabar di Dunia

Pernyataan “Ibu adalah madrasah pertama anak” adalah benar adanya. Melalui ibu, pendidikan anak pertama kali diterima. Akan menjadi baik atau buruk di luar rumah adalah cerminan dari pendidikan seorang ibu di rumah. Meskipun mungkin tak dapat digeneralisasikan, itulah kenyataannya.

Berdasarkan informasi yang aku baca, tokoh dunia yang sukses juga memiliki ibu yang mendidiknya dengan baik. Sebut saja Bill Gates, orang terkaya di dunia yang ternyata memiliki ibu yang mengajarkan kepedulian dan kegiatan sosial kepada Bill Gates.

Begitulah ibuku, beliau adalah guru yang paling sabar dalam hidupku. Beliau tidak pernah memarahiku dan telah mengajarkan ilmu kehidupan dengan telaten. Ibu selalu memotivasiku untuk menjadi lebih baik dari kedua orang tuaku. Ibu rela disebut ibu yang irit hanya supaya anak gadisnya ini bisa menempuh pendidikan hingga sarjana. Padahal saat itu perekonomian keluarga kami sedang kritis.

Baca juga: Tiga Kata Ajaib yang Membuatku Dekat dengan Anak

Keluhan ibu hanya terdengar bagai bisikan angin, nyaris lirih. Lebih riuh daripada tangisan anak-anaknya yang sibuk meneriakkan namanya saat mencari kaos kaki yang hilang. Ibu mengeluh saat harus membayar uang sekolah anak-anaknya, itu wajar karena ibu tidak bekerja dan hanya mengandalkan pemberian gaji bapak. Tapi entah mengapa keluhan ibu bagaikan cambuk semangat yang membuatku semakin melesat menempuh pendidikan tinggi dan lulus sebagai sarjana dengan predikat cumlaude.

Ibu Menginspirasi Tiada Henti

Sejak kecil aku memang bercita-cita menjadi guru dan sebelum lulus kuliah aku benar-benar bisa mewujudkannya meskipun mengajar di madrasah swasta kecil. Namun, cita-citaku berubah sejak empatiku muncul melihat perjuangan ibu membesarkan kelima anaknya. Sejak aku juga telah memikirkan masa depanku yang akan menikah dengan siapa, cita-citaku berubah menjadi perempuan yang tegar dan sabar seperti ibuku.
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku
Saya dan Ibu
Sejak kecil, hingga aku dewasa ibu selalu menginspirasi. Tak perlu banyak bicara untuk memberitahukan berbagai macam kebaikan yang harus dilakukan anak-anaknya. Ibu lebih memilih memberikan contoh dan itu menginspirasiku. Seperti saat teman-temanku atau teman-teman adikku menginap di rumah, ibu memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Ibu lebih suka jika teman-teman anaknya menginap di rumah daripada kami yang harus menginap di rumah teman.

Baca juga: Kartini Masa Kini yang Menginspirasi 

Ibu baik kepada setiap orang tanpa pilih kasih, mengajarkan kepada anak-anaknya arti kasih sayang yang tulus. Mencintai sesama akan membuat kita juga dicintai orang lain. Kata ibu, jika kita berbuat baik maka orang lain juga baik pada kita. 

Dedikasiku Untuk Ibu

Saat ini aku memang belum sekaya Bill Gates. Aku juga belum setenar Mark Zuckerberg. Tapi alhamdulillah aku telah mampu menjadi ibu yang mandiri dan memiliki keluarga yang bahagia. Semua itu karena ibu yang telah mendidikku dengan sabar, telaten, dan menjadi inspirasi tiada henti.

Semua karena ibu yang tiada henti memberikan kasih sayang dan perhatiannya bahkan hingga aku telah memiliki dua putri yang manis. Meskipun tinggal berjauhan, ibu selalu ada dihatiku. Ibu selalu menanyakan kabarku bahkan saat aku lupa menelepon beliau.

Sekarang aku tahu rasanya menjadi ibu, aku bisa merasakan pengorbanan beliau membesarkan kelima anaknya. Alhamdulillah, karena kegigihan ibu aku bisa menjadi blogger yang bercita-cita menginspiratif pembaca melalui tulisanku. Aku ingin dikenang sebagai seorang yang berguna dan meninggalkan jejak yang bermanfaat jika telah tiada nanti.

Cita-citaku masih ingin menjadi ibu yang sabar dan menginspirasi, seperti ibuku. Tapi tak hanya itu, aku juga bercita-cita membawa ibu ke Baitullah, setidaknya itu juga cita-cita ibu yang ingin kukabulkan. Semoga. Amiin.

Itulah ceritaku tentang Ibu dalam rangka mengikuti kompetisi blog saliha.id. Kalian juga bisa lho ikutan kompetisinya. Cuss klik gambar berikut ya guys!
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku