bundadzakiyyah.com - Banyak hal dapat menyebabkan peselisihan dengan anak. Tapi tak bisa dipungkiri juga jika perbedaan pendapat adalah salah satu penyebab yang paling sering menjadi pemicu. Misalnya saja tentang pemakaian handuk saat mandi, sepele sekali sebenarnya. Bunda ingin anak memakai handuk yang lebih bersih, tapi si anak ngeyel pengen pakai handuk kesayangnnya yang kebetulan sudah kotor.

Jika salah satu tidak ada yang mau mengalah, Bunda maupun anak, maka akan tejadi perselisihan (atau petengkaran -- agak kasar). Hal ini tentu saja sering dialami oleh hampir setiap Bunda atau Ayah di rumah. Betul tidak?

Kalau saya sih pernah, tapi nggak terlalu sering. Apalagi setelah beberapa kali saya mengikuti "Sharing Parenting" bersama Pondok Parenting Harum yang dimotori oleh Bunda Abyz Wigati S.Psi (pemerhati perempuan dan konselor). Setelah tahu ilmu parenting, saya sebagai ibu bisa mengontrol diri dan tahu bagaimana cara menghadapi permasalahan dalam keluarga terutama berkaitan dengan anak.

Baca juga: Gadged (aman) untuk Anak

Sharing parenting terakhir yang saya ikuti bertema "Menyikapi Perbedaan Pendapat dengan Anak" pada hari Minggu (23/6) di Aula Lawang Agung Malang. Kegiatan pertama setelah lebaran ini berlangsung seru dan bermakna. Pesertanya juga cukup banyak dan ada beberapa yang mengajak anaknya. Enaknya nih kalau ikutan sharing parenting bersama pondok parenting harum adalah bisa mengajak anak-anak. Nanti disiapkan mainan untuk mereka, dan ibu-ibunya mengikuti materi.

Faktor Penyebab Konflik

Menurut Bunda Abyz, penyebab konflik bisa dilihat dari dua sisi yaitu sisi orang tua dan sisi anak. Lha iya, jangan hanya melihat penyebab masalah dari satu sisi saja.

Dari sisi orang tua, biasanya konflik disebabkan karena
  1. Orang tua menjadi aturan dalam keluarga
  2. Orang tua merasa selalu benar
  3. Orang tua beranggapan untuk kebaikan anak
  4. Ketika anak menolak, orang tua merasa kehilangan wibawa sehingga muncul anggapan bahwa anak mau menang sendiri, tidak patuh, memberontak, dan lain-lain.
Sedangkan dari sisi anak, biasanya konflik terjadi karena:
  1. Anak punya keinginan bebas (bukan berarti tidak sayang orang tua). 
  2. Anak punya rasa ingin tahu yang tinggi (bukan berarti ngeyel/menentang orang tua)
  3. Terkadang pendapat anak disertai dengan ego tinggi yang selalu ingin didengar, hal ini tak jarang membuat pendapatnya lebih kuat daripada pendapat orang tua.
Tidak hanya itu, pergaulan anak atau lingkungan sekitar juga memberikan andil dalam mempengaruhi pola pikir anak. Sehingga saat anak membuat keputusan yang berbeda dengan orang tua dapat menimbulkan perdebatan. Misalnya saja saat anak harus memilih jurusan sekolah, atau memilih pasangan hidup. Lalu apa yang seharusnya dilakukan orang tua agar pedebatan yang tejadi tidak menimbulkan perpecahan?

Baca juga: Sudahkah kita membaca bersama anak kita?

Bunda Abyz memberikan tips bijak yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi masalah perbedaan pendapat dengan anak, yaitu:

Mendengarkan Pendapat dan Penjelasan Anak 

Coba untuk mengetahui dulu penyebab anak berbeda pendapat dengan orang tua. Alih-alih memarahinya, tanyakan alasan yang membuat anak mengambil keputusan berbeda dengan orang tua. Bisa saja kan anak punya alasan yang lebih rasional, tapi kita sebagai orang tua tekadang enggan mengakui. Nah, tidak ada salahnya kan, Bunda atau Ayah mendengarkan pendapat anak terlebih dahulu lalu berikan altenatif yang sesuai dengan pendapat anak. Tetap jelaskan mengapa anak harus mengikuti pendapat kita.

Menyampaikan Pendapat dengan Bijak 

Hindari menolak keputusan anak secara tiba-tiba lalu memarahinya jika tenyata keputusan mereka kurang tepat atau bahkan tidak mendatangkan manfaat. Bisa-bisa anak akan marah jika tanpa alasan dimarahi. Makanya, sebelum melarang anak atau mengatakan kata "tidak" sebaiknya sampaikan alasan ditolaknya pendapat mereka. Tak lupa sediakan juga altenatif pilihan lain yang jauh lebih baik daripada keputusan yang akan diambil anak. Nah, selain mendapatkan penjelasan, anak juga dapat mempertimbangkan keputusan yang dianjurkan.
Oh iya, hindari juga "POKOKE/POKOKNYA" yang intinya adalah memaksakan kehendak ortu kepada anak dan ganti dengan kata "MAAF". 

Misalnya nih, Bunda marah dan bilang "Pokoknya kamu harus nurutin perintah Bunda, gak boleh main sebelum belajar" coba diganti dengan "Maaf, sebelum bermain kakak belajar dulu ya". Lebih enak mana ya kalau didengar?

Meminta Anak untuk Memikirkan Kembali

Ayah-Bunda pasti sudah tahu jika saat anak masih remaja, emosinya labil. Keputusan yang mereka ambil tekadang tidak disadari dan imbas dari emosi sesaat. Oleh karenanya minta anak untuk memikirkan kembali keputusan yang mereka ambil. Ajak mereka membuat list positif dan ngatif jika keputusan mereka diterapkan. Tanpa penjelasan, mereka akan mengerti dengan sendirinya jika list negatif lebih banyak. Sehingga mereka dapat mempertimbangkan sendiri keputusan yang mereka buat.

Memperhatikan Waktu dan Kalimat Penyampaian

Saat bersitegang dengan siapapun, hindari berdiskusi saat masih bersitegang, pun dengan anak-anak. Pilih kondisi yang nyaman, anak tidak sedang terburu-buru, dan sampaikan dengan pilihan kata terbaik yang dapat memengaruhi persepsi anak dalam merespon penjelasan orang tua. Jangan lupa untuk mengontrol diri saat memilih kalimat yang akan disampaikan kepada anak. Hal ini akan mempengaruhi persepsi anak dalam merespon penjelasan orang tua.

Selain keempat tips tersebut, ada empat kata ajaib yang bisa ayah-bunda katakan untuk mengurangi perselisihan. Saya pun berusaha menerapkannya dan alhamdulillah dapat meminimalisir perselisihan, baik dengan anak ataupun pasangan. Apakah keempat kata ajaib itu?
"MAAF, TERIMA KASIH, TOLONG, PERMISI"
Itulah hasil Seminar Parenting bertema Menyikapi Perbedaan Pendapat dengan Anak yang dapat saya rangkum dan share. Semoga bermanfaat dan jangan dishare jika tidak bermanfaat ya!

"Anak belum pernah menjadi orang tua, sedangkan orang tua sudah merasakan masa sebagai anak. Maka orang tualah yang diharapkan bisa memahami anak, namun bukan berarti harus kalah" -- Abys Wigati